Kota Mayat, Sekitar 6700 Orang Meningal dalam Waktu Dua Minggu

Viral kejadian yang tidak biasa terjadi di berbagai daerah sekarang terjadi di negara Ekuador tepatnya di provinsi Guayas. Sebanyak 6700 jiwa meninggal dunia pada dua minggu awal bulan April.


Viral kejadian yang tidak biasa terjadi di berbagai daerah sekarang terjadi di negara Ekuador tepatnya di provinsi Guayas. Sebanyak 6700 jiwa meninggal dunia pada dua minggu awal bulan April. Hal tersebutlah yang menyebabkan Guayas menjadi daerah terdampak. Sehingga Guayas digelar dengan kota mayat.  Ketika masa pandemi COVID-19, kota yang berjumlah penduduk kurang lebih 2,5 juta tersebut menyebabkan rumah duka kewalahan, bahkan sebagian harus ditutup untuk sementara waktu. Ada sebagian kerabat yang putus asa, sehingga mereka hanya membiarkan mayat tersebut tergeletak di dalam kamar bahkan di depan rumah.  kota tersebut kehabisan tempat untuk menguburkan mayat, sehingga mereka terpaksa membawa mayat tersebut kekota tetangga untuk dimakamkan.  Selain itu, kebutuhan untuk memakamkan jenazah sangat tinggi, sehingga sebagian warga menggunakan karton sebagai peti mayat, sungguh mengharukan. Lenin Moreno seorang presiden Ekuador mengakui bahwa negara telah gagal mengatasi masalah kesehatan.  Pada tanggal 16 April, pemerintah mengira hanya 400 orang yang meninggal dunia karena COVID-19. Tetapi setelah Tugas Gabungan Virus Corona mengumpulkan data, hal tersebut berubah. Seorang kepala Satgas Pemerintah berkata “Dengan angka yang kita dapat dari Kementrian Dalam Negeri, tempat pemakaman umum, kantor CAPIL serta tim kami, kami sudah menghitung kurang lebih 6.703 kematian pada 15 hari pertama dibulan April,”.  Setelah data dikumpulkan, jumlah kematian rata-rata perminggunya berjumlah 2.000 orang. Tidak semua orang yang meninggal di Guayas positif Covid-19, tetapi juga disebabkan oleh berbagai penyakit seperti gagl jantung, gnjal, serta masalah kesehatan lainnya.  Kemudian setelah diketahui jumlahnya, negara tersebut berjanji akan mencegah jumlah pasien yang meningkat. Tetapi bagi warga yang sudah kehilangan orang tercinta janji itu sudah terlambat dan tidak ada gunanya lagi.


Hal tersebutlah yang menyebabkan Guayas menjadi daerah terdampak. Sehingga Guayas digelar dengan kota mayat.

Ketika masa pandemi Covid-19, kota yang berjumlah penduduk kurang lebih 2,5 juta tersebut menyebabkan rumah duka kewalahan, bahkan sebagian harus ditutup untuk sementara waktu.
Ada sebagian kerabat yang putus asa, sehingga mereka hanya membiarkan mayat tersebut tergeletak di dalam kamar bahkan di depan rumah.

kota tersebut kehabisan tempat untuk menguburkan mayat, sehingga mereka terpaksa membawa mayat tersebut kekota tetangga untuk dimakamkan.

Selain itu, kebutuhan untuk memakamkan jenazah sangat tinggi, sehingga sebagian warga menggunakan karton sebagai peti mayat, sungguh mengharukan.

Lenin Moreno seorang presiden Ekuador mengakui bahwa negara telah gagal mengatasi masalah kesehatan.

Pada tanggal 16 April, pemerintah mengira hanya 400 orang yang meninggal dunia karena Covid-19. Tetapi setelah Tugas Gabungan Virus Corona mengumpulkan data, hal tersebut berubah. Seorang kepala Satgas Pemerintah berkata “Dengan angka yang kita dapat dari Kementrian Dalam Negeri, tempat pemakaman umum, kantor CAPIL serta tim kami, kami sudah menghitung kurang lebih 6.703 kematian pada 15 hari pertama dibulan April,”.

Setelah data dikumpulkan, jumlah kematian rata-rata perminggunya berjumlah 2.000 orang. Tidak semua orang yang meninggal di Guayas positif Covid-19, tetapi juga disebabkan oleh berbagai penyakit seperti gagl jantung, gnjal, serta masalah kesehatan lainnya.

Kemudian setelah diketahui jumlahnya, negara tersebut berjanji akan mencegah jumlah pasien yang meningkat.

Tetapi bagi warga yang sudah kehilangan orang tercinta janji itu sudah terlambat dan tidak ada gunanya lagi.

Artikel Terkait

Belum ada Komentar untuk "Kota Mayat, Sekitar 6700 Orang Meningal dalam Waktu Dua Minggu"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel